chemistry for peace not for war

hanya DIA yang dapat menghentikan hatiku

Category Archives: Eksperimen Kimia

Eksperimen : Memasukan Telur Ke Dalam Botol

memasukan telur ke dalam botol wanibesak

Telur yang telah direbus dapat dimasukan ke dalam botol dengan botol. Tentu kita tidak pernah berpikir untuk memasukan telur melalui botol yang mulutnya lebih kecil dibanding ukuran telur. Karena jika dimasukan dengan cara di dorong tentu saja telur tersebut akan hancur. Oleh sebab itu untuk memasukannya diperlukan tekanan udara. Hal ini dapat dilakukan di dalam laboratorium maupun dirumah.

 

Alat dan Bahan

– Telur rebus yang telah dikupas

– Botol dengan diameter mulut sedikit besar tetapi tidak dapat dilewati oleh telur rebus.

– Kertas

– Korek

 

Cara kerja

Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk memasukan telur ke dalam botol yakni sebagai berikut.

 

Cara I

1. Siapkan botol yang akan digunakan

2. Bakar selembar kertas, kemudian segera masukan ke dalam botol

3. Letakan telur yang telah direbus dan telah dikupas di atas mulut botol

4. Tekan sedikit telur agar telur sesak pada mulut botol. Tujuannya tidak ada udara yang kelur maupun masuk ke dalam botol.

5. Tunggu beberapa saat. Secara perlahan telur akan masuk ke dalam botol.

 

Cara II

Selain menggunakan cara di atas proses pemanasan botol dapat dilakukan menggunakan air panas dan nitrogen cair.

Telur yang telah diletakan di mulut botol diletakan di dalam air panas sehingga telur akan masuk ke dalam botol.

Nitrogen cair merupakan cairan yang sangat dingin namun sedikit berbahaya karena dapat menghancurkan kaca oleh sebab itu dapat juga menggunakan air es. Ketika diletakan dalam air es telur secara perlahan akan masuk ke dalam botol.

 

Penjelasan

Setelah melakukan percobaan ini tentu kita akan bertanya mengapa hal ini dapat terjadi. Untuk menjawab pertanyaan ini kita lihat kembali pada langkah 4, telur yang telah diletakan di atas botol akan menutupkeluar atau masuknya udara. Oleh sebab itu ketika kertas terbakar udara di dalam botol semua akan digunakan untuk melangsungkan reaksi. Ketika api telah padam suhu dan tekanan di dalam botol menurun. Hal ini menyebabkan tekanan udara yang berada di luar botol lebih tinggi atau lebih besar dibanding tekanan udara di dalam botol. Karena hal inilah yang menyebabkan telur akan terdorong ke dalam.

 

Cara mengeluarkan telur dari dalam botol

Setelah memasukan tentu kita perlu mengeluarkannya. Untuk mengeluarkan telur yang telah dimasukan dapat dilakukan dengan cara meningkatkantekanan di dalam botol sehingga tekanan di dalam botol lebih tinggi dari tekanan luar sehingga telur akan keluar ketika botol dimiringkan. Cara mengerjakannya dengan cara meniupkan udara ke dalam botol.

Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara menghirup atau mengisap udara keluar dari dalam botol. Namun perlu berhati-hati agar tidak tersedak telur yang keluar.

Keselamatan Kerja Di Laboratorium Kimia

Dalam laboratorium kimia sangat banyak bahan-bahan berbahaya. Oleh karena itu harus berhati-hati dalam melakukan kegiatan-kegiatan dalam laboratorium. Perhatikan label-label yang tertera pada kemasan zat tersebut (Baca : Rambu lalulintas bahan kimia). Untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berada dalam laboratorium, yakni

  1. Jagalah agar semua senyawa dan pelarut jauh dari mulut, kulit, mata dan pakaian.

  2. Hindarilah dari menghirup uat atau debu. Untuk mencium gas kibaskas gas menggunakan tangan sampai bau tercium.

  3. Jangan mencicipi atau membawa makanan atau minuman dalam laboratorium.

  4. Berhati-hatilah bila bekerja dengan asam kuat reagen korosif, reagen-reagen yang volatil dan mudah terbakar.

  5. Menggunakan kacamata pengaman atau gunakan penutup yang lebih besar untuk menutupi seluruh wajah.

  6. Bagi yang menggunakan lensa kontak berhati-hati agar tidak ada bahan kimia yang masuk ke mata. Zat-zat yang bersifat korosif atau beracun dapat masuk dengan cepat ke bagian belakang lensa kontak, sehingga tidak mungkin dapat dicuci.

  7. Menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Namun perlu diingat kerja menggunakan sarung tangan akan sedikit menghambat pekerjaan terutama dalam merangkai alat.

  8. Selama bekerja dilaboratorium harus menggunakan baju laboratorium dan harus dikancingkan dengan baik untuk melindungi diri dan mencegah kontaminasi pada baju yang digunakan sehari-hari. Baju laboratorium harus dicuci secara teratur dan berhati bila telah terkontaminasi.

  9. Jangan memanaskan, mencampur, menuang atau mengocok bahan kimia dekat wajah dan tubuh sendiri ataupun orang lain.

  10. Jangan mengambil larutan menggunakan mulut, selalu gunakan filer pipet.

  11. Berhati-hati terhadap asam dan basa kuat khusunya bila dipanaskan dan jangan pernah menambah air ke asam atau basa pekat.

  12. Bahan-bahan yang menghasilkan gas yang berbahaya harus ditangani di lemari asam dan menggunakan sarung tangan pelindung. Bahan-bahan tersebut antara lain adalah halida fosfor, brom, semua klorida asam, anhidrida asam, asam nitrat berasap, larutan amonia pekat, cairan amonia, belerang dioksida.

  13. Bahan-bahan kimia yang telah di ambil tidak boleh dikembalikan ke dalam botol stok dan jangan membuang pelarut ke wadah yang telah disediakan terutama bahan-bahan organik. Untuk bahan-bahan yang lain dibuang sesuai petunjuk pembimbing.

  14. Jangan pernah memanaskan cairan organik meskipun sedikit atau dekat api. Selalu gunakan penangas air atau penangas minyak atau mantel pemanas listrik. Bila bekerja dengan eter, petroleum eter dan karbon disulfida diperlukan perhatian khusus karena bersifat volatil dan mempunyai titik nyala yang rendah, sehingga harus dipastikan tidak ada nyala api atau sumber api.

  15. Jangan memanaskan cairan atau larutan terutama cairan organik ditempat yang terbuka. Jika ingin dipanaskan harus menggunakan kondensor yang dapat disusun sebagai refluks atau destilasi. Untuk semua cairan organik jangan pernah menguapkan ke udara.

  16. Jangan pernah memanaskan sistem tertutup karena dapat terjadi ledakan.

  17. Beberapa pelarut misalnya eter dan hidrokarbon dapat membentuk peroksida yang eksplosif secara spontan waktu disimpan. Destilasi pelarut yang mengandung peroksida sangat berbahaya, sebab residu peroksida dapat meledak dengan hebat bila dipanaskan. Oleh karena itu pelarut seperti ini tidak boleh diuapkan atau didestilasi.

KINETIKA HALOGENASI ASETON DENGAN KATALISATOR ASAM

A. Tujuan Percobaan

Menentukan persamaan laju reaksi iodisasi aseton dalam suasan asam.

B. Dasar Teori

Laju suatu reaksi aA + bB à cC dapat dinyatakan sebagai –d[A]/dt, -d[B]/dt ataupun +d[C]/dt. Laju reaksi tergantung pada konsentrasi pereaksi maupun hasil reaksi yang dinyakan dalam suatu hukum atau persamaan laju. Persamaan laju reaksi secara sederhana dapat dituliskan:

-d[A]/dt = k[A]x[B]y ……………………………. (1)

Dimana x dan y berturut-turut adalah orde reaksi terhadap A dan B. Secara pendekatan, laju reaksi dapat dinyatakan -∆[A]/∆t. Penentuan makin teliti jika ∆t makin kecil. Persamaan atau hukum laju reaksi dari suatu reaksi tak dapat diramalkan dari persamaan stoikiometrinya, tetapi harus ditentukan melalui eksperimen. Dari bentuk hukum ini seringkali dapat diperoleh informasi tentang mekanisme reaksi.

Stoikiometri reaksi halogenasi aseton, misalnya bromisasi dapat dituliskan sebagai berikut:

CH3-CO-CH3 + Br2  CH3-CO-CH3Br + Br + H+

Dari percobaan diperoleh fakta-fakta sebagai berikut:

1. Kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi H+ (dalam suasana asam) atau dalam suasana basa laju reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi OH.

2. Dalam suasana asam sebagai hasil reaksi diperoleh juga H+ sehingga dalam larutan yang tidak di buffer kecepatan awal reaksi (pada saat kurang dari 10% pereaksi telah bereaksi) akan terus bertambah selama reaksi berlangsung.

3. Kecepatan halogenasi aseton juga bergantung pada konsentrasi aseton, tetapi tidak tergantung pada konsentrasi halogen kecuali saat konsentrasi halogen yang sangat tinggi.

4. Kecepatan raksi halogenasi aseton ini tidak tergantung pada jenis halogen.

Berdasarkan fakta-fakta di atas melalui pendekatan penentuan persamaan laju reaksi, diperoleh persamaan:

d[P]/dt = k [A][H+] ………………….. (2)

Hasil pendekatan ini sesuai dengan hasil pengamatan bahwa reaksi keseluruhan masing-masing berorde satu terhadap aseton dan asam tetapi tidak tergantung pada konsentrasi halogen.

Penentuan persamaan laju reaksi iodisasi aseton dalam suasana asam ini digunakan metode spektrofotometri, dimana laju reaksi diikuti dengan mengukur laju perubahan konsentrasi iodin dengan spektrofotometer. Absorbansi larutan diusahakan antara 0,7 hingga 0,2 dengan memilih panjang gelombang yang sesuai. Dalam mereaksikan reaktan, larutan aseton dicampur terlebih dahulu dengan HCl, dan kemudian ke dalam campuran ini ditambahkan larutan iodin sesuai dengan skema berikut.

No.

Vol. aseton

Vol. HCl

Vol. I2

ΔA tiap t tertentu

1.

2.

Dst.

    C. Peralatan yang Digunakan

  • Spectronic 20

  • Tabung reaksi

  • Pipet 5 ml

  • Pipet ukur 2 ml

  • Gelas kimia

  • Labu takar

  • Stop watch

       

    D. Bahan yang Digunakan:

      Larutan aseton 3 M

  • Larutan HCl 0,3 M

  • Larutan I2 0,015 M

  • Larutan KI 0,01 M (untuk pengenceran larutan I2)

       

    E. Rangkaian Alat

    clip_image002

    Keterangan Gambar:

    1. tempat kuvet                   7. tombol untuk mencetak

    2. display digital                  8. pengatur panjang gelombang

    3. mode indikator                9. pengatur transmitan/absorbans (100%T / 0 A)

    4. mode pilihan                  10. tombol power/pengatur nol

    5. tombol pengurangan        11. pengatur filter

    6. tombol menaikkan

     

    F. Langkah Kerja.

  1. Tentukan dulu λ maksimum (sekitar 530 nm), dengan mengukur absorbansi larutan I2 sebagai fungsi λ.

  2. Tentukan dulu jumlah masing-masing pereaksi pada percobaan ini sehingga untuk satu kelompok “run” percobaan hanya ada satu pereaksi yang konsentrasinya dalam campuran bervariasi. Dengan demikian maksimum ada dua belas “run”. Volume total pereaksi 25 – 40 mL dan diambil tetap. Misal untuk “run” 1 s/d 4 diambil volume aseton bervariasi, “run” 5 s/d 8 diambil volume HCl bervariasi dan untuk “run” 9 s/d 12 diambil volume I2 bervariasi.

  3. Sesuai dengan tabel yang dibuat, campurkan aseton, asam dan akuadest di dalam gelas kimia 50 ml.

  4. Isikan larutan iodium dalam tabung reaksi dan tuangkan ke dalam gelas kimia yang berisi aseton dan HCl tadi. Pada saat dituangkan jalankan stop watch.

  5. Segera aduk dan tuangkan campuran ke dalam sel untuk diukur absorbansinya secepat mungkin (kurang dari 1 menit) pada panjang gelombang yang sesuai.

  6. Catat absorban dan waktu yang tercatat pada stopwatch (A1 dan t1), (biarkan kuvet tetap dalam spektrofotometer dan stopwatch tetap berjalan).

  7. Pengamatan absorban dan waktu berikutnya dapat dilakukan, setelah absorban berkurang 0,1; pada saat itu hentikan stop watch. Catat absorban dan waktu yang tercatat pada stopwatch (A2 dan t2).

  8. Ulangi langkah 3 s/d 7 untuk variasi konsentrasi aseton, asam, dan iodium sesuai dengan tabel yang saudara susun.

     

G. Data Pengamatan

No.

Vol. Aseton

Vol. HCl

Vol H2O

Vol. I2

absorban

waktu

A1

A2

t1

t2

1.

2.

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

    H. Analisis Data.

    Sesuai dengan hukum Lambert-Beer, A = a.b.c., nilai perubahan absorbansi berbanding lurus dengan perubahan konsentrasi, sehingga laju reaksi r = ΔA/Δt .

    Untuk konsentrasi asam dan I2 tetap, diperoleh persamaan:

    r = k [A]x

    ln r = ln k + x ln [A]

    Dengan cara mengalurkan grafik ln r versus [A] harga kdan x dapat ditentukan.

    I. Pertanyaan.

       

  1. Turunkan persamaan dan cara yang digunakan untuk membuktikan bahwa suatu reaksi secara keseluruhan berorde dua.

  2. Selain dengan spektrofotometer, laju reaksi dapat ditentukan dengan cara titrasi volumetri. Terangkan cara tersebut.

       

    Daftar Pustaka

    Atkins, P.W. 1986. Physical Chemistry. 3rd edition. Oxford: Oxford University Press.

    Castelan, G.W. 1983. Physical Chemistry. 3rd edition. Amsterdam: Addison Wesley Publishing Company

    Day, R.A. Jr and Underwood,A.L. , 1986, Kimia Analisis Quantitatif, Jakarta:Erlangga.

    Laidler, Keith, J., dan Meisler, John H. 1982. Physical Chemistry. California: The Benjamin/Cuming Publishing Company, Inc

Penentuan tetapan pengionan indikator metil merah Secara spektrofotometri

DOWNLOAD DI >>>>>>>>>>>>>>>>>>> “”””SINI”””””

ANALISA PENDAHULUAN SUATU DETERJEN

A. Tujuan

Pada analisis pendahuluan ini akan dilakukan:

1. Pengamatan secara fisik dari suatu surfaktan dalam keadaan terlarut (warna, bau, pH dan indeks bias).

2. Penentuan jenis surfaktan (anionic, kationik, dan non ionic).

3. Tes pemanasan dan tes peleburan dengan natrium yang dilanjutkan dengan analisis kualitatif terhadap Na, K, S, SO42-, dan Fe

 

B. Dasar Teori

Deterjen merupakan salah satu jenis surfaktan yang larut dalam air. Deterjen yang diperdagangkan biasanya berupa campuran dari berbagai bahan. Bahan yang sama dari pabrik yang berbeda dengan nama Kimia yang sama, tidak jarang memiliki sifat fisik dan Kimia yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh karena:

1. Variasi komposisi bahan dasar untuk pembuatan deterjen tersebut diperoleh dari sumber yang berbeda.

2. Proses pembuatan yang umumnya tidak sama. Secara umum surfaktan yang larut dalam air terbagi menjadi 4 golongan, yaitu:

a. Surfaktan kationik (bermuatan positif).

b. Surfaktan anionik (bermuatan negatif).

c. Surfaktan nonionik (tak terionisasi).

d. Surfaktan amfoter (muatan positif/negatif tergantung pH).

 

Cara analisis suatu surfaktan dapat dilakukan dengan cara fisika maupun cara kimia atau gabungan dari keduanya. Keadaan fisik dari surfaktan dalam keadaan terlarut, merupakan informasi pertama yang dapat diperoleh.

Data mengenai warna, bau, pH, dan indeks bias tidak jarang dapat mengarahkan atau melengkapi data analisis selanjutnya. Analisis surfaktan dengan cara kimia dapat merupakan analisis penggolongan surfaktan, penentuan gugus-gugus yang terdapat di dalamnya, penentuan untusur-unsur yang dikandungnya dan sebagainya.

Untuk menentukan jenis surfaktan dikenal beberapa cara pengujian sederhana, antara lain:

1. Tes anionik (test wheatherburn)

Pengujian ini didasarkan atas pembentukan garam yang larut dalam kloroform dari reaksi metilen biru dan surfaktan anionik. Terjadinya pembentukan garam (reaksi positif) ditandai oleh warna biru yang lebih kuat pada lapisan kloroform daripada lapisan air. Sabun, asam amino berantai panjang, dan betaine memberikan hasil negatif. Surfaktan non ionik dan garam-garam anorganik tidak mengganggu test ini.

 

2. Tes kationik (kortlandt dan Dammers)

Pengujian berdasarkan pada sifat surfaktan kationik yang dapat bereaksi dengan zat warna yang bersifat asam. Dalam hal ini zat warna merupakan indikator. Zat warna yang biasa dipakai adalah biru bromfenol dalam buffer natrium asetat dengan pH 3,6 – 3,9.

Timbulnya warna biru langit pada campuran 10 mL reagen zat warna dengan 2-5 tetes surfaktan pada pH = 7 menunjukkkan surfaktan yang dianalisis adalah surfaktan kationik. Dengan tes ini semua jenis surfaktan kationik termasuk kuartener dan non kuartener akan memberikan warna biru muda dengan fluoresensi ungu. Surfaktan non ion tidak mengganggu, sedangkan amina berantai pendek memberikan hasil negatif.

 

3. Tes elektrolisis (cara Goldstein)

Pengujian ini bersifat umum, adanya endapan organik pada anoda menunjukkan surfaktan anionik dan bila endapan organik terjadi pada katoda menunjukkan surfaktan kationik.

Untuk analisis kulaitatif penentuan unsur-unsur yang terkandung di dalam suatu surfaktan dapat dilakukan dengan peleburan tes natrium.

Na + (C, H, O, N, S, P, Cl, Br, F, I, L) → Na+ + C + H2(g) + OH + CN + SH + PH3(g) + H2PO3– + Cl + Br + I + F + Ln+, dimana L adalah logam.

Adanya phosphor dapat tercium dari bau gas yang keluar (bau phosphine). Dari filtrat peleburan ini selanjutnya dilakukan pengujian-pengujian kualitatif terhadap K, S, SO32-, PO43- dan Fe.

 

C. Alat yang Digunakan.

Refraktometer

1 buah

pH meter

1 buah

Alat elektrolisis

lengkap

Tabung reaksi

10 buah

Pembakara bunsen

lengkap

Cawan porselin

1 buah

Penjepit + tabung reaksi kecil (soft glass)

1 buah

Pipet tetes

D. Bahan yang Digunakan

1. Larutan 5% contoh deterjen

2. Larutan metilen biru yang mengandung 0,03 gr metilen biru, 12 gr asam sulfat pekat, dan 50 gr natrium sulfat per liter larutan

3. Kloroform

4. Larutan biru bromofenol dalam buffer Na-asetat dengan pH 3,6-3,9

5. Logam natrium

6. larutan H2O2 30%

7. Pereaksi Zn-uranil asetat

8. Pereaksi Na-kobalt nitrit

9. HNO3 pekat

10. Larutan amonium molibdat

11. Larutan Na-nitroprusida

12. Larutan BaCl2 0,1 M

13. larutan KSCN

14. Larutan HCl 1 M

15. Lakmus merah dan lakmus biru

E. Langkah Kerja

1. Periksa warna dan bau larutan contoh deterjen yang akan dianalisis, kemudian tentukan pH dan indeks biasnya.

 

2. Tes anionik

Ke dalam tabung reaksi yang berisi 10 mL larutan metilen biru, tambahkan pula 5 mL kloroform. Kocok campuran selama beberapa detik, lalu amati pada lapisan mana warna biru yang paling kuat.

 

3. Tes kationik

Ke dalam tabung reaksi, masukkan 10 mL larutan 0,002% biru bromofenol dalam buffer Na-asetat pH 3,6 – 3,9. Kemudian teteskan 2 – 5 tetes larutan deterjen 1% dengan pH 7. Kocok dan amati warna larutan.

 

4. Tes elektrolisis

Melalui dua buah elektroda tembaga, alirkan arus searah dengan tegangan 10 volt ke dalam larutan contoh deterjen 1% selama 10 – 15 menit. Amati apakah pada salah satu elektroda terjadi endapan organik.

 

5. Tes Pemanasan.

Panaskan ± 1 gram larutan deterjen, mula-mula dengan api kecil kemudian dengan api kuat. Periksa gas yang keluar dengan lakmus merah dan dengan lakmus biru yang basah. Lanjutkan pemanasan sampai hampir semua zat organik habis.

lalu dinginkan dan tambahkan beberapa tetes H2O2 30%, kemudian panaskan kembali beberapa saat. Sesudah dingin tambahkan beberapa tetes asam nitrat pekat dan panaskan lagi. Larutkan residu dalam 1 mL air. Periksa larutan residu terhadap Na, K, S, SO42-, PO43-, dan Fe. Uji Na memakai tes nyala, sedangkan uji yang lain lihat langkah kerja 6.

 

6. Tes Peleburan Natrium.

Masukkan ± 0,5 gram logam natrium ke dalam tabung reaksi kecil (soft glass), lalu panaskan perlahan-lahan samapai timbul asap hitam. Dinginkan lalu tambahkan 2-3 tetes larutan contoh deterjen, kemudian panaskan dengan kuat sampai pijar. Masukkan tabung yang masih pijar ke dalam 10 mL air dan panaskan beberapa saat, lalu saring. Analisis filtrat dengan pengujian terhadap K, S, SO42-, P, dan Fe sebagai berikut:

 

Uji K:

2 tetes filtrat ditambahkan pereaksi Na-kobalt nitrit. Adanya K ditandai dengan endapan kuning

Uji P:

2 tetes filtrat ditambah 2 tetes asam nitrat pekat dan 2 tetes amonium molibdat. Adanya P ditandai dengan endapan kuning.

Uji S:

2 tetes filtrat ditambah dengan 2-5 tetes Na-nitroprusida. Bila timbul warna merah berarti ada S.

Uji SO42-:

2 tetes filtrat ditambah larutan BaCl2, bila terjadi endapan putih tambahkan HCl 1 M. Adanya SO42- ditandai oleh endapan putih yang tidak larut dalam asam.

Uji Fe:

2 tetes filtrat ditambah setetes larutan KSCN. Adanya Fe ditandai dengan timbulnya warna merah.

F. Data Pengamatan

 

1. Pengamatan secara fisik

No.

Jenis larutan 5% deterjen

Pengamatan secara fisik

warna

bau

pH

indeks bias

1.

2.

3.

4.

2. Tes Anionik

No.

Larutan metilen biru

5 mL Lar. deterjen 1%

Kloroform

Warna lapisan deterjen

Warna lapisan kloroform

1.

10 mL

5 mL

2.

10 mL

5 mL

3.

10 mL

5 mL

4.

10 mL

5 mL

3. Tes Kationik

No.

Larutan biru bromofenol

Larutan deterjen 1%

Warna Larutan

1.

10 mL

5 tetes

2.

10 mL

5 tetes

3.

10 mL

5 tetes

4.

10 mL

5 tetes

4. Tes Elektrolisis

No.

Larutan deterjen 1%

Lama elektrolisis

Ada/tidak endapan organik

Katoda

Anoda

1.

….. menit

2.

….. menit

3.

….. menit

4.

….. menit

5. Tes Pemanasan

No.

1 gram deterjen

Sifat asam-basa gas

Uji Na

Uji K

Uji S

Uji SO42-

Uji PO43-

Uji Fe

1.

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

2.

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

3.

……. ……

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

4.

……. …….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

6. Tes Peleburan Natrium

No.

2-3 tetes lar. deterjen 5%

Uji K

Uji P

Uji S

Uji SO42-

Uji Fe

1.

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

2.

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

3.

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

4.

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

…….

    G. Analisis Data

  1. Susun data lengkap hasil analisis contoh deterjen yang saudara periksa.

  2. Tentukan jenis deterjen dan unsur/gugus apa saja yang terkandung di dalamnya. Perkirakan kemungkinan penggunaan jenis deterjen tersebut. Jelaskan jawaban saudara.

 

    H. Pertanyaan.

  1. Apa perbedaan antara sabun biasa dan deterjen. Sebutkan masing-masing kelebihan dan kekurangannya sebagai bahan pencuci.

  2. Sebutkan jenis-jenis bahan yang biasa terdapat dalam suatu deterjen dan apa peranan masing-masing bahan tersebut.

  3. Jenis ikatan apa saja yang dapat terjadi antara kotoran dan kain?

  4. Apakah arti sabun keras dan sabun lunak?

 

Daftar Pustaka

Rosen M.J., Goldsmith. 1960. Systematic Analysis of Surface Active Agents. New York: Interscience Publ. Inc.

 

Agar Lebih Rapi, File artikel ini silakan download disini….!!!!

 

PRAKTIKUM SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

 

 

 

=DOWNLOAD=

Petunjuk Praktikum ANGKA ANGKUT Menentukan angka angkut kation dan anion dengan cara Hittorf

A. Tujuan Percobaan Percobaan.

Menentukan angka angkut kation dan anion dengan cara Hittorf.

 

B. Dasar Teori

Bagian arus yang diangkut oleh kation yang bergerak ke katoda dan oleh anion yang bergerak ke anoda disebut angka angkut. Banyaknya bagian arus yang diangkut oleh anion dan kation tidak sama.

Ion yang bergerak lebih cepat akan mengangkut jumlah listrik yang lebih banyak melalui larutan dalam satuan waktu tertentu atau ion tersebut mengangkut bagian arus yang lebih banyak.

Untuk suatu elektrolit, jika ua dan uc masing-masing adalah mobilitas anion dan kation, maka angka angkut kation dan anion dirumuskan:

nc = uc / (uc + ua) dan na = ua / (uc + ua)

dimana, nc : angka angkut kation

            na : angka angkut anion

            uc : mobilitas kation

             ua : mobilitas anion

Dengan demikian diperoleh persamaan : (nc + na) = 1.

Ada beberapa cara untuk menentukan angka angkut anion dan angka angkut kation, antara lain dengan cara batas bergerak dan cara Hittorf. Pada percobaan berikut akan dilakukan penentuan angka angkut cara Hittorf.

Pada cara hittorf digunakan sel elektrolisis yang dibagi menjadi tiga bagian dengan menggunakan penyekat berpori. Tiga bagian tersebut adalah ruang anoda, ruang katoda dan ruang penghubung. Pada proses elektrolisis jumlah ekivalen kation yang terbentuk di anoda sama dengan jumlah ekivalen atom yang terbentuk di katoda, tetapi konsentrasi kation di sekitar elektroda tidaklah tepat sama.

Sebagai contoh, elektrolisis larutan CuSO4, jika x ekivalen ion Cu2+ dilepaskan di anoda, akan terjadi peningkatan jumlah ion Cu2+ x ekivalen di sekitar anoda, bila tidak terjadi migrasi ion Cu2+ ke katoda. Karena terjadi migrasi Cu2+ dalam ruang anoda, maka hanya terjadi peningkatan jumlah ion Cu2+ sebesar z ekivalen yang lebih kecil dari x.

Besarnya x dapat diketahui dengan cara penimbangan anoda atau penentuan jumlah muatan listrik yang digunakan dalam elektrolisis, sedangkan besarnya z dapat diketahui dengan cara titrasi larutan di sekitar anoda sebelum dan sesudah elektrolisis. Besarnya angka angkut ion Cu2+ dihitung dengan menggunakan rumus:

nc = (x – z)/x

z : peningkatan jumlah ekivalen ion Cu2+ di ruang anoda.

x : ekivalen dari Cu yang berasal dari oksidasi anoda.

nc : angka angkut kation

 

C. Peralatan yang Digunakan.

· Sumber arus DC

· Stop watch

· Buret

· Corong

· Pipet takar 5 dan 10 ml

· Erlenmeyer 100 ml

· Beaker glass 400 ml

 

D. Bahan yang Digunakan

· Elektroda Cu

· Larutan CuSO4 0,1 M

· Larutan Na2S2O3 0,1 M

· Larutan KI 0,1 M (baru)

· Indikator amilum (baru)

 

E. Rangkaian Alat.

Rangkaian alat elektrolisis untuk menentukan angka angkut cara Hittorf dalam percobaan, ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Gambar Rangkaian alat elektrolisis untuk menentukan angka angkut cara Hittorf

Gambar: Rangkaian alat elektrolisis untuk menentukan angka angkut cara Hittorf

 

F. Langkah kerja.

1. Bersihkan sepasang elektroda Cu dengan kertas gosok, cuci dengan air kemudian dengan alkohol. Timbang elektroda yang akan dipakai sebagai anoda dengan ketelitian 0,001 gram.

2. Isikan larutan CuSO4 0,1 M (konsentrasi harus diketahui dengan tepat) ke dalam beaker (alat yang lebih sesuai adalah yang berbentuk persegi panjang).

3. Pasanglah elektroda, penyekat dan alat lain untuk elektrolisis.

4. Tentukan volume larutan dalam ruang anoda, dengan mengukur tinggi, panjang, dan lebar.

5. Alirkan listrik selama 30 menit, catat kuat arus tiap 1 menit. Kuat arus dalam perhitungan adalah harga rata-rata kuat arus ini.

6. Ambilah 5 ml larutan di sekitar anoda dengan pipet takar sebanyak tiga kali dan tempatkan masing-masing dalam erlenmeyer.

7. Tambahkan ke dalam masing-masing erlenmeyer, 15 ml larutan KI 0,1 M dan indikator amilum.

8. Titrasilah masing-masing larutan dengan larutan Na2S2O3 0,1 M sampai warna biru hilang.

9. Ulangi langkah 6 – 8 untuk larutan CuSO4 yang belum dielektrolisis.

10. Bersihkan anoda dengan air (jangan digosok) kemudian dengan alkohol. Timbanglah anoda tersebut bila sudah kering benar.

 

G. Data Pengamatan

1. berat anoda awal = ….. gram

2. berat anoda akhir = ….. gram

3. konsentrasi CuSO4 awal = ….. N

4. konsentrasi CuSO4 akhir (ruang anoda) = …… N

5. volume ruang anoda = …… cm3

6. kuat arus rata-rata = ….. A

7. Lama elektrolisis = ….. detik

 

H. Analisis Data.

Besarnya angka angkut kation ditentukan dengan cara menghitung jumlah ekivalen dari ion Cu2+ yang diangkut dari ruang anoda ke katoda, sedangkan angka angkut anion dihitung dengan cara mengurangkan angka angkut kation terhadap angka satu (1 – nc). Langkah-langkah analisis sebagai berikut.

1. Hitunglah pengurangan berat anoda

2. hitunglah jumlah ekivalen ion Cu2+ yang telah dibentuk oleh anoda

3. Hitunglah peningkatan jumlah ekivalen ion Cu2+ di sekitar anoda (harga ini diperoleh dengan mengurangi konsentrasi akhir dengan konsentrasi awal dikalikan volume ruang anoda)

4. Hitunglah nc dan na

 

I. Pertanyaan.

1. Tuliskan reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode Cu

2. Tuliskan reaksi yang terjadi pada titrasi larutan CuSO4 pada percobaan ini.

 

Daftar Pustaka

Atkins, P.W. 1986. Physical Chemistry. 3rd edition. Oxford: Oxford University Press

Castelan, G.W. 1983. Physical Chemistry. 3rd edition. Amsterdam: Addison Wesley Publishing Company

Day, R.A. Jr and Underwood,A.L. , 1986, Kimia Analisis Quantitatif, Jakarta:Erlangga.

Laidler, Keith, J., dan Meisler, John H. 1982. Physical Chemistry. California: The Benjamin/Cuming Publishing Company, Inc

 

Artikel Lainnya :

 

1. STRUKTUR KRISTAL BEBERAPA SENYAWA IONIK

2. KESTABILAN SENYAWA IONIK APAKAH KARENA TERPENUHINYA ATURAN OKTET?

3. Ricin Salah Satu Racun yang diTakuti DiDunia

Eksperimen Keren Dari Teh Celup

Kali ini kita akan bereksperimen menggunakan teh celup, apa yang bisa kita lakukan dengan benda kecil itu? Sebelum kita bereksperimen, ada baiknya kita mengetahui sejarah dibalik pembuatan teh celup ini.

Teh celup tercipta secara tidak sengaja ketika seorang pedagang teh dan kopi bernama thomas sullivan (1904) memasukkan teh yang akan dijualnya ke dalam kemasan sutera.

clip_image002

Awalnya pelanggan yang membeli harus membuka kemasan sutera tersebut untuk mengambil teh yang ada di dalamnya. hingga suatu ketika ada pelanggan yang memasukkan kemasan sutera berisi teh tersebut ke dalam air panas dan merasa cara itu lebih mudah untuk membuat teh.

Setelah itu teh kemasan sutera itu menjadi terkenal dan menjadi cara baru untuk menikmati teh.

Ok langsung aja kita ke eksperimen yang akan dipraktekkan. Untuk eksperimen kali ini bahan-bahan yang diperlukan adalah:

1. Teh celup (gunakan yang kemasannya dilipat dan ada staplesnya)

2. Korek api

3. Piring atau wadah

clip_image004

Langkah Kerja:

1. Buka satu kemasan teh celup (lepaskan staplesnya), keluarkan teh yang ada di dalam kemasan. Kemudian bentuk kemasan teh celup hingga menyerupai silinder (bisa diberdirikan di atas wadah).

clip_image005

2. Nyalakan korek api, kemudian bakar bagian atas silinder kemasan teh celup.

clip_image006

3. Biarkan api bergerak ke bawah dan membakar silinder kemasan teh celup tersebut.

clip_image007

4. Ketika api mendekati bagian bawah, kemasan teh celup tersebut Api akan terbang dan melayang ke atas.

clip_image008

 

Bagaimana hal itu dapat terjadi?

Ketika api membakar bagian atas silinder teh celup, udara di sekitarnya memanas, mengembang dan bersifat kurang padat.

Karena udara panas di atas api kurang padat dari udara (dingin) di sekitarnya, maka kemasan teh celup tersebut akan terdorong dan terbang ke atas.

clip_image009

(Gambar siklus udara di sekitar silinder kemasan teh celup)

 

Ketika udara panas naik ke atas, udara yang lebih dingin bergerak dan menggantikan posisi udara panas sebelumnya. Gerakan perpindahan panas ini berlangsung berulang-ulang menyebabkan kemasan teh celup terbang lebih tinggi dan lebih tinggi dari sebelumnya.

Pada awalnya, silinder kemasan teh celup masih terlalu berat untuk dapat diangkat. Tetapi ketika dibakar, massanya akan berkurang, semakin ringan sampai akhirnya cukup ringan bagi arus udara untuk mendorongnya terbang ke udara.

 

melorot.blogspot.com

Cara Membuat Perangkap Nyamuk Sederhana

Cukup mudah pembuatannya dan lebih aman karena tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan.

Sebuah alternatif senjata bagi perjuangan terus menerus kita dalam memberantas nyamuk. Tak perlu dijelaskan lagi betapa bahayanya nyamuk buat kita. Ok, mari kita mulai.

Alat dan Bahan:

– Botol plastik bekas ukuran 1,5 liter.

– 200 ml air

– 50 gram gula merah

– 1 gram ragi (beli di toko makanan kesehatan, warung, atau pasar)

 

Langkah Kerja:

1. Potong botol plastik di tengah. Simpan bagian atas/mulut botol.

clip_image003

 

2. Campur gula merah dengan air panas. Biarkan hingga dingin dan kemudian tuangkan di separuh bagian potongan bawah botol.

clip_image004

 

3. Tambahkan ragi. Tidak perlu diaduk. Ini akan menghasilkan karbon-dioksida.

clip_image005

 

4. Pasang/masukkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong.

clip_image006

 

5. Bungkus botol dengan sesuatu yang berwarna hitam, kecuali bagian atas, dan letakkan di beberapa sudut rumah Anda.

clip_image007

 

6.   Dalam dua minggu, Anda akan melihat jumlah nyamuk yang mati di dalam botol.

clip_image008

 

Perhatian : Gula merah ini mengundang semut untuk datang, jadi jangan lupa diberi tempat seperti tempat tatakan susu kental yang diberi air agar tidak disemuti. Atau cara lainnya dilingkari dengan kapur anti semut.

 

apakabardunia.com

Pembuatan Telur Telanjang

clip_image001

 

Berikut langkah-langkah untuk membuat telanjang dan memiliki bentuk seperti karet. Karena hal inilah cara pembuatan telur telanjang bisa disebut juga pembuatan telur karet…!!!! namun telur karet ini di buat bukan dari bahan-bahan karet, tetapi benar-benar dari telur yang ASLI bukan ASPAL (ASLI TAPI PALSU).. hehehehehehe…!!!!!

 

Alat dan bahan

1) 1 butir telur ayam

2) Silinder atau gelas tinggi (ukuran agar telur bisa masuk)

3) Asam asetat dengan nama samaran cuka dapur

4) Kesabaran secukupnya.

 

Cara Kerja

1. Tempatkan telur ke dalam silinder atau gelas tinggi.

2. Tembahkan cuka dapur sampai semua bagian telur ditutupi oleh cuka dapur. Perhatikan gelembung-gelembung udara yang muncul dari permukaan cangkang telur. (perhatikan gambar)

clip_image003

3. Biarkan selama 24 jam.

4. Setelah 24 jam, ganti cuka lama dengan cuka yang baru. Hati-hati menuangkan cuka yang lama.

5. Biarkan selama 1 minggu di tempat yang aman dan tenang. JAUHKAN DARI JANGKAUN ANAK-ANAK..!!!

6. Pada hari ke-7, tuangkan cuka dan bila telur dengan air samapi bersih. Pada saat ini telur akan nampak tembus pandang karena sel bagian luar atau cangkang telur telah terlepas atau dapat dilepaskan dengan mudah sehingga dapat dikatakan telur telah telanjang. (perhatikan gambar)

clip_image005

Untuk percobaan lain, coba gunakan asam asetat yang konsentrasinya lebih tinggi dalam hal bukan cuka dapur. Cuka dapur hanya mengandung 5% asam asetat dan 95% air. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan menggunakan asam klorida (HCl) 1 atau 3 M (molar). Hati-hati menggunakan HCl pekat.

 

Kini pertanyaannya: bagaimana hal ini dapat terjadi…!!! Berikut penjelasannya.

           Ketika telur diberikan atau direndam menggunakan asam asetat atau cuka dapur, maka akan terjadi reaksi kimia. Pada cangkang telur mengandung mengandung kalsium karbonat. Kalsium karbonat (CaCO3) inilah yang bereaksi dengan asam asetat atau cuka dapur membentuk ion kalsium dalam larutan sedangkan karbonat terurai menjadi CO2.

clip_image007

         CO2 yang dihasilkan dapat di amati ddari gas-gas yang terbentuk pada saat penambahan asam asetat atau cuka dapur. Sedangkan telur menjadi seperti karet karena, sebagian asam asetat menembus atau menyelinap masuk melalui membran telur. Masuknya asam asetat ke dalam telur terjadi secara osmosis yaitu aliran suatu zat terlarut dari yang konsentrasi rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi.